My Notes

12 Juli 2012

Pyrodinium bahamense var. compressum; MIKROALGA BERACUN DARI PERAIRAN BORNEO

Spesies Pyrodinium di perairan Kabupaten Nunukan telah menewaskan 2 warga lokal dan 68 orang keracunan pada tahun 1988.

Pernahkah mendengar seorang nelayan tewas akibat memakan biota laut seperti ikan dan kerang-kerangan?, atau melihat kejadian ikan dan biota laut lainnya mati dalam jumlah masal?. Peristiwa tersebut boleh jadi diakibatkan oleh harmful algal bloom (HAB) atau ledakan mikroalga beracun yang biasa terjadi di perairan pesisir. Dampak negatif dari fenomena HAB ini tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, tapi juga menyebabkan kerugian ekonomi dan hilangnya mata pencaharian nelayan dan petani keramba.

Apa itu Harmful Algal Bloom (HAB)?

HAB atau istilah lainnya Red tide (pasang merah) adalah suatu penomena terjadinya perubahan warna air laut seperti merah, coklat, kuning, orange dan hijau. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh ledakan populasi (blooming) dari jenis fitoplankton baik yang bersifat toksik maupun non toksik. Fitoplankton adalah organisme renik (berukuran sangat kecil), yang dikelompokan sebagai jenis tumbuhan. Hidupnya melayang-layang di dalam kolom air dan pergerakannya sangat bergantung dari arus air. Fitoplankton penyebab Red tide umumnya dari kelas dinoflagellata kelompok Pyrrophyta. Ada sekitar 20 jenis dinoflagellata di dunia yang beracun. Salah satu jenis Dinoflagellata beracun tersebut adalah dari spesies Pyrodinium bahamense var. compressum. Spesies Red tide ini memiliki ciri khas yaitu dalam tubuhnya mengandung klorofil dan menghasilkan racun  ketika berfotosintesis.       

Bagaimana Mereka Membunuh Manusia dan Organisme lain? Ketika terjadi blooming Pyrodinium, spesies ini akan memproduksi toksin yang disebut Paralytic Shellfish Poisoning (PSP) dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Melalui proses rantai makanan, toksin tersebut akan berpindah dan terakumulasi pada zooplankton dan kerang-kerangan yang memakannya. Selanjutnya, zooplankton akan dimakan oleh ikan sehingga menyebabkan ikan mati. Demikian pula halnya dengan kerang-kerangan yang dimakan oleh hewan lain atau manusia, maka hewan dan manusia itupun akan keracunan bahkan menyebabkan kematian. Berikut ini adalah jenis-jenis toksin yang dihasilkan oleh bebeberapa mikroalga beracun lainnya yaitu ; Neurotoxic Shellfish Poisoning (NSP), Ciguatara Fishfood Poisoning (CFP), Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) dan Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP).

Sejarah Fenomena Red Tide di Perairan Borneo

Pulau Borneo memiliki sejarah yang panjang tentang fenomena Red tide yang disebabkan oleh spesies Pyrodinium ini. Lokasi pertama kali dilaporkan adalah di Teluk Brunei Darussalam dan pantai barat Sabah, Malaysia pada tahun 1976. Beales (1976) melaporkan kasus Red tide di Teluk Brunei mengakibatkan 5 orang keracunan setelah memakan ikan Mackerel yang terkontaminasi racun PSP.

Gambar pulau Borneo Kalimantan, Sabah dan Serawak malaysia, Brunei Darussalam.

Sementara itu, di pantai barat Sabah pada tahun yang sama racun PSP telah menewaskan 7 orang dan 202 orang lainnya mengalami keracunan (Roy,1977). Di tahun 1979, blooming Pyrodinium kembali dilaporkan di perairan Kawang, yang berlokasi di kawasan pantai barat Sabah. Kejadian itu menyebabkan 3 orang keracunan dan 1 orang meninggal. Berlanjut di tahun 1980, sebanyak 30 orang mengalami keracunan dan 2 orang meninggal di pulau Papan, Sabah, setelah memakan kerang yang terkontaminasi PSP. Selanjutnya, fenomena Red tide terus dicatat terjadi sepanjang tahun di perairan pantai barat Sabah hingga di tahun 1988. Bahkan, kasus yang sama baru-baru ini terjadi lagi di perairan Kota Kinabalu, Sabah pada bulan maret 2012, seperti yang dilaporkan oleh Fisheries department of Sabah.

Di pantai timur Sabah, Red tide Pyrodinium pertama kali di laporkan di pesisir laut Lahad Datu pada tahun 1981 (Adam, 2010). Sedangkan, di perairan Tawau kejadian Red tide Pyrodinium di catat pada tahun 1988 (Adnan, 2003). Namun, tidak ada laporan keracunan ataupun kematian warga akibat peristiwa tersebut.

Kasus Red tide di perairan Sebatik Nunukan

sumber:tribunnews.com

 

Kasus Red tide Pyrodinium di perairan Borneo tidak hanya terjadi di Teluk Brunei dan perairan Sabah, Malaysia saja. Seorang peneliti dari LIPI Quraisyin Adnan (2003), melaporkan  dalam artikel ilmiahnya bahwa fenomena Red tide juga pernah terjadi di Kabupaten Nunukan. Lokasi persisnya adalah di perairan sebelah selatan Pulau Sebatik pada bulan Januari 1988. Kejadian itu bersamaan waktunya dengan kasus Red Tide yang juga terjadi di perairan Tawau. Namun, blooming Pyrodinium di perairan Sebatik telah mengakibatkan sebanyak 68 warga setempat mengalami keracunan dan 2 orang lainnya meninggal dunia. Penyebabnya adalah memakan kerang yang terkontaminasi racun PSP. Selanjutnya, peristiwa red tide itu tidak pernah dilaporkan lagi hingga saat ini.

Berdasarkan fakta sejarah tentang fenomena Red tide di perairan Borneo, dapat disimpulkan bahwa spesies Pyrodinium bahamense var. compressum merupakan mikroalga beracun yang sangat mematikan. Sebaran lokasi kejadiannya di perairan Borneo cukup meluas meliputi Teluk Brunei, pantai barat dan timur Sabah hingga perairan Sebatik, Nunukan. Namun, bila dilihat dari frekuensi kejadiannya, disimpulkan bahwa perairan utara Borneo yaitu di Sabah merupakan tempat yang ideal dan subur bagi pertumbuhan spesies ini.

Secara geografis, wilayah Sabah Malaysia berbatasan langsung dengan Kab. Nunukan serta Kota Tarakan. Perairan lautnya saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Bila ditinjau dari pola arus laut tahunan di kawasan tersebut khususnya pada musim utara, maka dimungkinkan akan terjadi migrasi mikroalga beracun dari perairan Sabah menuju perairan Nunukan hingga Tarakan. Oleh karena itu, pemantauan terhadap eksistensi mikroalga beracun di perairan Nunukan dan Tarakan perlu dilakukan. Sehingga, gejala dari kejadian Red tide dapat diprediksi dan kasus-kasus keracunan bahkan kematian pun dapat di cegah sedini mungkin.

 

 

4 Juli 2012

BELAJAR HIDUP DARI KEHIDUPAN

Gambar Ilustrasi (source:sitoink.wordpress.com) Dari air kita belajar ketenangan … Dari batu kita belajar ketegaran … Dari tanah kita belajar kehidupan … Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri … Dari padi kita belajar rendah hati … Dari “ALLAH” kita belajar tentang Cinta dan Kasih Sayang yang Sempurna … Melihat ke atas , kita memperoleh semangat untuk maju … Melihat kebawah, kita bersyukur atas semua yang ada dan telah kita dapatkan… Melihat kesamping  ada semangat kebersamaan … Melihat kebelakang,  sebagai pengalaman yang berharga … Melihat kedalam, untuk introspeksi diri & Melihat kedepan, untuk menjadikan kita lebih baik dan lebih bersemangat utk meraih sukses, “ALLAH” Memberkahi disetiap tarikan nafas dan langkah2 kita AMIN…Ya Rabbal Alamin… (source: from someone)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: